LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN DALAM BIDANG SEJARAH
Mengapa dalam sejarah ada penelitian? Apakah tujuan
dilakukannya penelitian? Bagaimanakah langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam penelitian sejarah? Dalam sejarah ada penelitian karena sejarah merupakan
suatu ilmu. Apakah yang disebut dengan ilmu? Apa ciri-ciri dari ilmu? Kata ilmu
berasal dari bahasa Arab, yaitu ‘alama yang berarti pengetahuan.
Istilah tersebut kemudian disamakan dengan science dalam bahasa Inggris.
Science berasal dari bahasa Latin, yaitu scio atau scire yang
juga berarti pengetahuan.
Apabila pengetahuan itu tersusun secara sistematis
dari suatu subjek yang pasti, maka disebut dengan ilmu pengetahuan. Jadi,
tidak setiap pengetahuan adalah ilmu, sedangkan setiap ilmu pengetahuan
mengandung unsur pengetahuan. Ilmu pengetahuan memiliki ciri-ciri tertentu,
yaitu:
1. merupakan seperangkat pengetahuan yang sistematis;
2. memiliki metode yang efektif;
3. memiliki objek;
4. memiliki rumusan kebenaran-kebenaran umum;
5. bersifat objektif;
6. dapat memberikan perkiraan atau prediksi.
Sebuah pengetahuan dapat disusun secara sistematis
dengan menggunakan metode yang dimilikinya. Secara sederhana, metode dapat
diartikan sebagai langkah-langkah yang harus ditempuh untuk menjelaskan objek
yang dikajinya. Setiap ilmu pengetahuan memiliki objeknya masing-masing,
seperti sejarah objeknya adalah manusia sehingga sejarah dimasukkan ke dalam
kelompok ilmu sosial. Hasil dari penjelasan terhadap objek yang ditelitinya,
akan melahirkan rumusan-rumusan kebenaran atau sering disebut dengan teori. Rumusan
kebenaran dalam sejarah bersifat unik tidak umum atau universal. Unik dalam
pengertian ini yaitu kebenaran sejarah hanya berlaku pada situasi atau tempat
tertentu saja, belum tentu berlaku pada situasi dan tempat yang lainnya.
Contohnya, penjelasan tentang penyebab-penyebab terjadinya pemberontakan. Ada
beberapa penyebab timbulnya pemberontakan. Misalnya, orang berontak karena
lapar atau miskin, ada yang karena hak-hak dirinya yang sudah mapan terganggu,
ada yang karena rasa frustasi dan tertekan, ada yang karena harga dirinya
terasa terinjak-injak, ada yang karena memimpikan hadirnya seorang ratu adil
yang akan menciptakan kemakmuran, dan faktor-faktor lainnya.
Dalam sejarah Indonesia banyak sekali terjadi
pemberontakanpemberontakan, yang masing-masing penyebabnya berbeda-beda.
Misalkan berdirinya Negara Pasundan 1947 yang diproklamirkan oleh Surya
Kartalegawa.
Sikap Kartalegawa ini dianggap sebagai pemberontakan,
sebab dia menentang negara yang sah yaitu Republik Indonesia. Menurut sumber,
faktor penyebab tindakan Kartalegawa tersebut ialah karena Kartalegawa sebagai
orang Sunda dan mantan pegawai pemerintah (Bupati) merasa berhak untuk menjadi
Gubernur di Jawa Barat. Sementara itu sejak awal kemerdekaan, Presiden Soekarno
mengangkat Gubernur Jawa Barat bukan berasal dari orang Sunda.
Lain halnya dengan kasus pemberontakan yang dilakukan
oleh Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Kahar
Muzakar melakukan pemberontakan disebabkan ia merasa tidak dihormati sebagai
pejuang yang telah ikut berjuang melawan Belanda. Akibatnya, harga dirinya
merasa tidak dihargai. Sebagai orang Sulawesi Selatan, timbul sikap siri yang
artinya mempertahankan atau memperjuangkan harga diri yang merasa dihina oleh
orang lain. Sikap siri itu ia lakukan dengan cara memberontak kepada
pemerintah Republik Indonesia dalam bentuk gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan.
Sartono Kartodirdjo melihat
pemberontakan-pemberontakan petani yang terjadi pada akhir abad ke-19 di
Indonesia, disebabkan oleh adanya keinginan dari para petani akan datangnya
seorang Ratu Adil, yaitu seorang figur yang diharapkan dapat membawa kehidupan
yang lebih baik dari zaman yang sedang dialami oleh petani. Para petani merasa
tertekan secara struktural oleh penjajah.
Akibat tekanan itu, para petani memimpikan lahirnya
seorang Ratu Adil. Contohcontoh tersebut menunjukkan bahwa ilmu sejarah
memiliki rumusan-rumusan kebenaran atau teori yang unik, bersifat kasuistis,
belum tentu berlaku untuk kondisi dan tempat yang lainnya.
Penelitian dilakukan bertujuan untuk mencari
kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran menurut ukuran ilmu
pengetahuan. Ciri umum dari kebenaran ilmu pengetahuan yaitu bersifat rasional,
empiris, dan sementara.
Rasional artinya kebenaran itu ukurannya akal. Sesuatu dianggap
benar menurut ilmu apabila masuk akal. Sebagai contoh dalam sejarah kita
menemukan adanya bangunan Candi Borobudur yang sangat menakjubkan. Secara akal
pembangunan Candi Borobudur dapat dijelaskan, misalnya bangunan tersebut dibuat
oleh manusia biasa dengan menggunakan teknik-teknik tertentu sehingga
terciptalah sebuah bangunan yang megah. Janganlah kita menjelaskan bahwa
Borobudur dibangun dengan menggunakan kekuatan-kekuatan di luar manusia,
misalnya jin, sihir, setan, atau jenis makhluk-makhluk lainnya. Kalau
penjelasan seperti ini, maka sejarah bukanlah sebagai ilmu pengetahuan.
Empiris artinya ilmu itu berdasarkan kenyataan. Kenyataan yang
dimaksud di sini yaitu berdasarkan sumber yang dapat dilihat langsung secara
materi atau wujud fisik. Empiris dalam sejarah yaitu sejarah memiliki sumber
sejarah yang merupakan kenyataan dalam ilmu sejarah. Misalnya kalau kita
bercerita tentang terjadinya Perang, maka perang itu benar-benar ada
berdasarkan ukti-bukti atau peninggalan-peninggalan yang ditemukannya.
Kemungkinan masih adanya saksi yang masih hidup, adanya laporan-laporan
tertulis, adanya tempat yang dijadikan pertempuran, dan bukti-bukti lainnya.
Dengan demikian,
cerita sejarah merupakan cerita yang memang-memang
empiris, artinya benarbenar terjadi. Kalau cerita tidak berdasarkan bukti,
bukan sejarah namanya, tetapi dongeng yang bersifat fiktif.
Sementara artinya kebenaran ilmu pengetahuan itu tidak mutlak
seperti halnya kebenaran dalam agama. Kemutlakan kebenaran agama misalkan
dikatakan bahwa Tuhan itu ada dan memiliki sifat yang berbeda dengan
makhluknya. Ungkapan ini tidak dapat dibantah harus diyakini atau diimani oleh
manusia. Lain halnya dengan ilmu pengetahuan, kebenarannya bersifat sementara,
artinya dapat dibantah apabila ditemukan teori-teori atau bukti-bukti yang
baru. Dalam sejarah, kesementaraan ini dapat dalam bentuk perbedaan penafsiran
terhadap suatu peristiwa. Perbedaan ini dapat diterima selama didukung oleh
bukti yang akurat. Kesementaraan inilah yang membuat ilmu pengetahuan itu berkembang
terus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar